Pengobatan Kanker Serviks Dengan Kemoterapi Dan Efek Sampingnya

pengobatan kanker serviks

Kemoterapi adalah pengobatan kanker serviks dengan menggunakan obat kimia untuk membunuh sel kanker. Tujuan pengobatan kanker serviks ini adalah untuk menghancurkan sel-sel kanker dan mengurangi kemungkinan rusaknya bagian sel-sel yang sehat.

Kemoterapi adalah salah satu pengobatan kanker serviks yang sangat umum ditempuh penderita kanker serviks.

Kemoterapi diyakini dapat mengerutkan sel kanker dan mengurangi pertumbuhan tumor. Pemberian obat ini dalam proses kemoterapi ini dapat dimasukkan ke dalam tubuh melalui pembuluh darah vena alias dengan infus, atau dalam bentuk pil yang diminum langsung.

Pengobatan kanker serviks dengan cara memasukkan obat-obatan ini diharapkan dapat menjangkau seluruh area tubuh, sehingga bisa membantu membunuh perkembangan sel kanker.

Kemoterapi untuk kanker serviks ini dilakukan dalam satu siklus, yang meliputi periode pengobatan dan diikuti dengan periode pemulihan kanker serviks setelahnya.

Pengobatan kanker serviks dengan kemoterapi ini bisa dilakukan sebagai pengobatan tunggal ataupun dikombinasi dengan terapi radiasi. Metode kombinasi untuk pengobatan kanker serviks ini biasanya dilakukan sebagai metode untuk mengobati kanker serviks stadium lanjut. 

Umumnya, dosis obat untuk kemoterapi terbilang rendah jika dikombinasikan dengan terapi radiasi. Dan dosis kemoterapi yang lebih tinggi biasanya direkomendasikan untuk mengatasi gejala kanker serviks stadium lanjut.

Baca Juga :

Efek samping kemoterapi kanker serviks

efek samping pengobatan kanker serviks dengan kemoterapi

Pengobatan kanker serviks yang satu ini memiliki efek samping yang dapat dilihat dari perubahan fisik Anda. Efek samping yang paling umum dirasakan, antara lain mudah capek, merasakan mual, muntah, dan rambut rontok.

Hal ini terjadi karena dalam prosesnya kemoterapi juga dapat merusak beberapa sel tubuh yang normal. Efek samping dari kemoterapi yang dirasakan ini biasanya bervariasi bergantung dari jenis obat, dosis, serta lama kemoterapi yang Anda jalani.

Jika pengobatan ini  diberikan bersamaan dengan terapi radiasi, efek samping yang muncul dapat lebih berat. Contohnya, mual, kelelahan, darah rendah, dan diare. Bahkan, Anda juga bisa mengalami perubahan pada pola menstruasi. Entah itu tidak mendapatkan menstruasi selama beberapa waktu, atau malah mengalami menopause dini.

Selama periode kemoterapi, darah Anda akan diuji terus menerus secara teratur dan diberi antibiotik untuk mengobati dan mencegah adanya infeksi apa pun. Transfusi darah bisa saja diberikan jika Anda mengalami anemia. Tapi, beberapa obat kemoterapi yang biasa digunakan untuk pengobatan kanker serviks juga dapat memengaruhi ginjal.

Biasanya hal ini akan tidak menimbulkan gejala apa pun, tapi efeknya mungkin parah dan ginjal bisa rusak permanen, kecuali jika pengobatan dihentikan. Dokter akan mempertimbangkan risiko mana yang lebih dapat “diambil” saat menentukan pengobatan.