Beda Radioterapi dan Kemoterapi Pada Pengobatan Kanker Serviks

Kanker serviks atau yang lebih dikenal sebagai kanker mulut rahim menduduki salah satu penyakit kanker yang paling banyak diderita di dunia. Secara global menduduki peringkat ke lima dan urutan tertinggi di negara berkembang.

Menurut data Kementerian Kesehatan RI jumlah penderita kanker serviks mencapai 90 sampai dengan 100 kasus untuk per 100.000 jumlah penduduk dengan 40.000 kasus baru setiap tahunnya.

Melihat data di atas, kami rasa perlu untuk memberikan informasi apa saja jenis dan metode pengobatan kanker serviks yang dapat dilakukan seandainya sewaktu-waktu Anda perlukan.

Dan 2 pengobatan yang paling umum ada radioterapi dan kemoterapi. Anda masih bingung perbedaannya ? Berikut penjelasan singkat dari Kami.

1. Radioterapi

Salah satu metode pengobatan untuk menyembuhkan kanker serviks adalahmetode radioterapi. Pasien yang menggunakan metode ini akan menjalani pengobatan dengan penyinaran radiasi tinggi.

Radioterapi biasa digunakan untuk pengobatan kanker serviks stadium awal sampai stadium lanjut.

Terdapat dua jenis radioterapi yaitu eksternal dan internal seperti yang dikutip dari alodokter berikut ini:

  • Radioterapi eksternal menggunakan alat bernama (EBRT) External Beam Radiation Therapy dimana pasien akan disinari radiasi tinggi.
  • Radioterapi internal adalah metode radioterapi dimana implan radioaktif dimasukkan di dalam area vagina untuk membunuh sel-sel kanker yang ada.

Baca Juga :

2. Kemoterapi

Mungkin Anda sudah sering mendengar nama metode ini. Kemoterapi adalah pengobatan kanker dengan metode pemberian obat dengan cara diminum atau disuntikkan ke tubuh pasien.

Kemoterapi biasa digunakan untuk mendampingi radioterapi untuk meningkatkan keefektifan pengobatan.

Karena dalam kemoterapi obat menyebar ke seluruh bagian tubuh maka metode ini dapat menjadi pilihan efektif untuk melawan jaringan kanker yang telah tersebar ke beberapa bagian tubuh pasien.

Efek samping dari Kemoterapi yang paling umum adalah kerontokan pada rambut walaupun tidak semua obat kemoterapi memberikan efek ini, kemudian kemungkinan kerusakan ginjal dan sel penghasil darah .